Selasa, 08 November 2011

Awas, Amputasi Karena Diabetes Mellitus

11-08-2011 | Bekti-medicastore.com

Diabetes & komplikasinya

Diabetes adalah penyakit kronik yang progresif, artinya penyakit tersebut biasanya terjadi dalam jangka panjang dengan kondisi yang dapat semakin memburuk. Selain itu, diabetes juga dikenal sebagai penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi pada berbagai organ tubuh lainnya, seperti pada mata, ginjal, jantung & kaki.

Komplikasi kaki penyandang diabetes mellitus

Kenapa kaki juga dapat dipengaruhi oleh diabetes ?. Ternyata apabila kadar gula darah pada penyandang diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan syaraf (neuropati diabetik) & gangguan pembuluh darah. Kemudian akibat syaraf yang telah rusak tersebut membuat penyandang diabetes tidak dapat merasakan sensasi rasa panas, dingin atau bahkan rasa sakit pada tangan & kakinya. Oleh karenanya mereka juga tidak dapat merasakan apabila terjadi luka pada tangan & kakinya.

Bila telah terjadi luka, maka infeksi akan mudah terjadi, terutama dengan kadar gula darah yang tinggi sehingga membuat kuman cepat untuk berkembang biak. Hal ini kemudian diperparah lagi dengan adanya gangguan pada pembuluh darah yang biasa dialami oleh penyandang diabetes. Akibat adanya gangguan pada pembuluh darah tersebut, maka aliran darah tidak akan cukup untuk mencapai luka, sehingga luka & infeksi tidak mudah sembuh. Hal inilah yang akan memperbesar resiko terjadinya luka yang sulit sembuh pada penyandang diabetes yang akan berujung pada amputasi atau bahkan kematian.

Resiko amputasi bagi penyandang diabetes mellitus

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di Indonesia, diperkirakan angka kematian akibat adanya ulkus atau gangren pada penyandang diabetes mencapai 17-23 %, dengan angka amputasinya mencapai 15-30 %. Kemudian juga diperkirakan sebanyak 30-50 % pasien diabetes yang telah dilakukan amputasi, akan menjalani amputasi lagi pada sisi kaki lainnya dalam kurun waktu 1-3 tahun.

Cara terbaik untuk mencegah adanya amputasi atau bahkan kematian akibat ulkus / luka pada kaki penyandang diabetes adalah dengan cara pengelolaan kaki diabetik termasuk dengan cara deteksi dini segala bentuk kelainan kaki pada penyandang diabetes. Pengelolaan kaki tersebut sudah dapat dimulai sejak seseorang dinyatakan mengalami diabetes. Sehingga dengan demikian, diharapkan dapat mencegah terjadinya amputasi atau bahkan kematian pada penyandang diabetes.

Pengelolaan kaki penyandang diabetes
 

Dianjurkan bagi penyandang diabetes untuk melakukan pemeriksaan kaki secara teratur setiap hari. Sehingga bila terjadi luka atau kelainan pada kaki akan mudah untuk dideteksi. Hal yang harus diperhatikan saat pemeriksaan kaki adalah adanya : perubahan warna & suhu kulit, nyeri atau rasa tak nyaman, robekan di kulit, bengkak serta kalus / penebalan kulit.

Berikut adalah tips-tips pengelolaan kaki untuk para penyandang diabetes :
  1. Tips perawatan kaki penyandang diabetes :
    • Bersihkan & keringkan kaki secara teratur, kemudian periksalah apakah ada masalah pada kaki
    • Bila kaki kering, rawatlah dengan menggunakan pelembap
    • Jangan berjalan tanpa alas kaki
    • Jangan gunakan bahan kimia atau benda tajam untuk menipiskan penebalan pada telapak kaki
    • Jika terjadi masalah pada kaki, segera hubungi ahli kaki (podiatris)
  2. Tips perawatan kuku penyandang diabetes :
    • Memotong kuku sebaiknya dilakukan sesudah mandi sehingga kuku menjadi lebih lunak
    • Jangan coba memotong kuku dalam satu potongan
    • Jangan memotong kuku terlalu pendek
    • Jangan memotong bagian samping kuku terlalu dalam
    • Bila perlu, mintalah bantuan orang lain untuk memotongkan kuku
    • Jika kuku nyeri atau sulit untuk di potong, hubungi ahli kaki (podiatris)
  3. Tips alas kaki :
    • Gunakan sepatu dengan ukuran yang tepat serta dapat diikat dengan tali
    • Pilih sepatu yang mengikuti bentuk kaki
    • Pilih sepatu dengan bahan yang lembut, hindari yang terbuat dari bahan plastik
    • Gunakan selalu kaus kaki dari bahan katun
    • Sebelum menggunakan sepatu, singkirkan kerikil atau pasir yang mungkin ada dalam sepatu, bila perlu gunakan tangan untuk mendeteksi adanya bagian kasar di dalam sepatu
    • Gunakan selalu alas kaki, bahkan dalam aktiftas sehari-hari di dalam rumah atau di dalam kamar

Minggu, 31 Juli 2011

Puasa..........Akhirnya Dtang Juga

:: Slamat mnjLankan IbadaH puasa Buat yG menjalankanNya
daN buat semuanya Mohon Maaf Lahir dan Batin........





Slam Hangat dri HMJ Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palembang ^_^

Minggu, 12 Juni 2011

Pemilhan Kader atau Anggota HMJ Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palembang Periode 2011-2012

Assalammu ‘alaikum wr.wb
Sehubungan akan diadakannya pemilihan pejabat teras Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keperawatan periode 2011-2012. Maka kami selaku anggota HMJ Keperawatan periode 2010-2011 akan mengadakan pemilihan anggota HMJ Keperawatan periode 2011-2012, pada :
Hari / Tanggal          : Rabu, 14 Juni 2011
Pukul                      : 19.30 WIB / Selesai
Tempat                   : Aula Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Palembang (Tingkat 3)

Demikianlah pemberitahuan dari kami, terima kasih atas perhatiannya.

Wassalammu’alaikum Wr.Wb


A.N Wakil HMJ Keperawatan


Rizki Ariandy

Rabu, 27 April 2011

ASKEP BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA)

BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA)

  1. PENGERTIAN

1. Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. Price&Wilson (2005)

2. Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker, (Corwin, 2000)

3. BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002)

4. Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretra dan pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999)

5. Menurut Doenges (1999) dan Engram (1998) untuk mengatasi BPH, tindakan infasif medikal yang sering digunakan oleh Rumah Sakit adalah prostatektomy, yaitu tindakan pembedahan bagian prostat (sebagian/seluruh) yang memotong uretra bertujuan untuk memperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut.

Kesimpulan BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. Prostatektomy merupakan tindakan pembedahan bagian prostate (sebagian/seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut.

  1. ETIOLOGI

Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :

a. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut;

b. Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat;

c. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati;

d. Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

Pada umumnya dikemukakan beberapa teori :

- Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel srem. Oleh karena suatu sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain.

Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat, sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.

- Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal, 1978) menyebutkan bahwa jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya.

- Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron dan terjadinya konversi testoteron menjadi setrogen. ( Kahardjo, 1995).

  1. PATOFISIOLOGI

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram. Menurut Mc Neal (1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000), membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo, 2000). Sjamsuhidajat (2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase. Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar prostat.

Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency, disuria).

Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)

  1. MANIFESTASI KLINIS

Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.

Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer, 2000)

Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium :

a) Stadium I

Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis.

b) Stadium II

Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.

c) Stadium III

Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.

d) Stadium IV

Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara periodik (over flow inkontinen).

Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa :

Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah berkemih), retensi urine akut.

Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :

a. Rectal Gradding

Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :

- Grade 0 : Penonjolan prosrar 0-1 cm ke dalam rectum.

- Grade 1 : Penonjolan prosrar 1-2 cm ke dalam rectum.

- Grade 2 : Penonjolan prosrar 2-3 cm ke dalam rectum.

- Grade 3 : Penonjolan prosrar 3-4 cm ke dalam rectum.

- Grade 4 : Penonjolan prosrar 4-5 cm ke dalam rectum.

b. Clinical Gradding

Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing dahulu kemudian dipasang kateter.

- Normal : Tidak ada sisa

- Grade I : sisa 0-50 cc

- Grade II : sisa 50-150 cc

- Grade III : sisa > 150 cc

- Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.

  1. KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)

Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).

  1. PENATALAKSANAAN MEDIS

Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis

a. Stadium I

Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.

b. Stadium II

Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)

c. Stadium III

Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.

d. Stadium IV

Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.

Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.

Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada BPH dapat dilakukan dengan:

a. Observasi

Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok dubur.

b. Medikamentosa

1) Mengharnbat adrenoreseptor α

2) Obat anti androgen

3) Penghambat enzim α -2 reduktase

4) Fisioterapi

c. Terapi Bedah

Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang, divertikel batu saluran kemih, hidroureter, hidronefrosis jenis pembedahan:

1) TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)

Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra.

2) Prostatektomi Suprapubis

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung kemih.

3) Prostatektomi retropubis

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih.

4) Prostatektomi Peritoneal

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara skrotum dan rektum.

5) Prostatektomi retropubis radikal

Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah, uretra dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker prostat.

d. Terapi Invasif Minimal

1) Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)

Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter.

2) Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP)

3) Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD)

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan BPH adalah :

a. Laboratorium

1). Sedimen Urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.

2). Kultur Urin

Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.

b. Pencitraan

1). Foto polos abdomen

Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin.

2). IVP (Intra Vena Pielografi)

Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.

3). Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)

Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.

4). Systocopy

Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

  1. PENGKAJIAN

Pengkajian pada pasien BPH dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan. Menurut Doenges (1999) fokus pengkajian pasien dengan BPH adalah sebagai berikut :

a. Sirkulasi

Pada kasus BPH sering dijumpai adanya gangguan sirkulasi; pada kasus preoperasi dapat dijumpai adanya peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh karena efek pembesaran ginjal. Penurunan tekanan darah; peningkatan nadi sering dijumpai pada. kasus postoperasi BPH yang terjadi karena kekurangan volume cairan.

b. Integritas Ego

Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas egonya karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan yang dapat dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan perilaku.

c. Eliminasi

Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali dialami oleh pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam memulai aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih inkomplit, frekuensi berkemih, nokturia, disuria dan hematuria. Sedangkan pada postoperasi BPH yang terjadi karena tindakan invasif serta prosedur pembedahan sehingga perlu adanya obervasi drainase kateter untuk mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi warna urin. Evaluasi warna urin, contoh : merah terang dengan bekuan darah, perdarahan dengan tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh, gelap dengan bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga ada kemugkinan terjadinya konstipasi. Pada preoperasi BPH hal tersebut terjadi karena protrusi prostat ke dalam rektum, sedangkan pada postoperasi BPH, karena perubahan pola makan dan makanan.

d. Makanan dan cairan

Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena efek penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji adalah awasi masukan dan pengeluaran baik cairan maupun nutrisinya.

e. Nyeri dan kenyamanan

Menurut hierarki Maslow, kebutuhan rasa nyaman adalah kebutuhan dasar yang utama. Karena menghindari nyeri merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pada pasien postoperasi biasanya ditemukan adanya nyeri suprapubik, pinggul tajam dan kuat, nyeri punggung bawah.

f. Keselamatan/ keamanan

Pada kasus operasi terutama pada kasus penyakit BPH faktor keselamatan tidak luput dari pengkajian perawat karena hal ini sangat penting untuk menghindari segala jenis tuntutan akibat kelalaian paramedik, tindakan yang perlu dilakukan adalah kaji adanya tanda-tanda infeksi saluran perkemihan seperti adanya demam (pada preoperasi), sedang pada postoperasi perlu adanya inspeksi balutan dan juga adanya tanda-tanda infeksi baik pada luka bedah maupun pada saluran perkemihannya.

g. Seksualitas

Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya, takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau nyeri tekan pada prostat.

h. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium diperlukan pada pasien preoperasi maupun postoperasi BPH. Pada preoperasi perlu dikaji, antara lain urin analisa, kultur urin, urologi., urin, BUN/kreatinin, asam fosfat serum, SDP/sel darah putih. Sedangkan pada postoperasinya perlu dikaji kadar hemoglobin dan hematokrit karena imbas dari perdarahan. Dan kadar leukosit untuk mengetahui ada tidaknya infeksi.


Minggu, 27 Maret 2011

Askep Pasien Post Op Hernia Inguinalis Dextra

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hernia inguinalis merupakan masalah kesehatan yang sering kita temukan di dalam masyarakat, penyakit ini kebanyakan menimpa pada kaum laki – laki, tak jarang juga penyakit ini juga menjadi penyakit yang sangat membuat kaum laki – laki merasa malu pada saat berobat, sehingga penderita hernia ini lebih memilih pengobatan yang secara tradisional yang berupa terapi ke dukun ataupun paranormal. Di dukung juga dengan tingkat pendidikan yang rendah, membuat para penderita lebih lebih percaya kepada pengobatan non medis. Hal ini yang juga yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam penanganan penyakit.

Dalam sejarahnya pada tahun 1552 SM di Mesir telah dilaporkan pengobatan untuk Hernia Inguinalis dengan melakukan suatu tekanan dari luar. Galen pada tahun 176 M melaporkan penurunan duktus testikularis melalui lubang kecil pada lower abdomen,kemudian ia meneliti dari awal tentang sebab pertama kali melaporkan pengobatan bedah terhadap hernia ( Girl & Mantu, 2000 dalam www. Scribd.com )

Dari data – data pasien, hernia inguinalis adalah sebanyak 98 kasus selama tahun 2010 di RSUD Palembang BARI di ruang Perawatan Bedah (Medical Record RSUD Palembang BARI Palembang)

Maka dari itu kami lebih tertarik untuk mengambil Asuhan Keperawatan pada Tuan “M” dengan Pre op dan Post Op Hernia Inguinalis Dextra di ruang Perawatan bedah RSUD Palembang BARI.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memberikan Asuhan keperawatan kepada Tn. “M” dengan pre op dan post op Hernia Inguinalis.

2. Tujuan Khusus

- Dapat melakukan pengkajian secara tepat kepada Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat mengetahui diagnose keperawatan yang tepat pada Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat mengetahui intervensi yang akan dibuat untuk Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat melakukan implementasi keperawatan yang tepat untuk Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat mengetahui evaluasi keperawatan pada Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

C. WAKTU

Asuhan keperawatan Tn.”M” dilakukan pada tanggal 31 Januari - 02 Februari 2011.

D. TEMPAT

Asuhan keperawatan dilakukan di ruang perawatan bedah RSUD Palembang BARI Palembang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PROFIL RSUD PALEMBANG BARI

1. SELAYANG PANDANG

Rumah Sakit Umum daerah Palembang BARI merupakan unsur penunjang pemerintah daerah dibidang kesehatan yang merupakan yang merupakan satu – satunya rumah sakit umum milik pemerintah kota palembang. Rumah Sakit Umum Palembang BARI terletak di jalan Panca Usaha No. 1 Kelurahan 5 Ulu Darat Kecematan seberang Ulu dan berdiri di atas tanah seluas 4,5 H.

Bangunan berada lebih kurang 800 meter dari jalan Raya jurusan kertapati. Sejak tahun 2010 dibuat jalan alternatif dari Jakabaring menuju RSUD Palembang BARI. Saat ini sedang diupayakan pembangunan jalan langsung menuju RSUD Palembang BARI dari jalan poros Jakabaring .

2. VISI MISI DAN MOTTO

VISI

Rumah Sakit andalan dan terpercaya di Sumatrera Selatan.

MISI

1. Melaksanakan pelayanan kesehatan yang bermutu.

2. Melaksanakan manajemen administrasi yang efektif dan efisien.

MOTTO

“ Anda sembuh, kami puas “

“ Anda puas, kami bahagia “

3. SEJARAH

1. Sejarah Berdirinya

§ Pada tahun 1985 sampai tahun 1994 RSUD Palembang BARI merupakan gedung polikklinik atau Puskesmas Panca Usaha.

§ Pada Tanggal 19 juni 1996 diresmikan menjadi RSUD Palembang BARI dengan SK Depkes No. 1362/Menkes/SK/XI/1997, tanggal 10 november 1997 ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah kelas C

§ Kepmenkes RI Nomor : HK.00.06.2.2.4646 tentang pemberian status akreditas penuh tingkat dasar kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 7 November 2003

§ Kepmenkes RI Nomor : YM.01.10/III/334/08 tentang pemberian status akreditas penuh tingkat lanjut kepada Rumah sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 5 februari 2008.

§ Kepmenkes RI Nomor : 241/MENKES/SK/IV/2009 tentang peningkatan kelas Rumah sakit umum daerah palembang BARI menjadi kelas B, tanggal 2 April 2009.

§ Ditetapkan sebagai BLUD-SKPD RSUD Palembang BARI berdasarkan keputusan Walikota Palembang N0.195 B tahun 2008 tentang Penetapan RSUD Palembang BARI sebagai SKPD Palembang yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD (PPK-BLUD) secara penuh.

2. Sejarah Pemegang Jabatan

§ Tahun 1986 s.d 1995 : dr. jane Lidya Titahelu sebagai Kepal Polikklinik/Puskesmas Panca Usaha.

§ Tanggal 1 Juli 1995 s.d juni 2000 : dr. Eddy Zarkaty Monasir, Sp. OG sebagai Direktur RSUD Palembang BARI.

§ Bulan Juli 2000 s.d November 2000 : Pelaksana tugas dr. H. dachlan Abbas, S.pB

§ Bulan desember 2000 s.d februari 2001 : Pelaksana tugas dr. M. faisal Soleh, Sp. PD

§ Tanggal 14 November 2000 s.d sekarang dr. H. Indah Puspita H. A, MARS sebagai Direktur RSUD Palembang BARI.

4. FASILITAS DAN PELAYANAN

a. Fasilitas

1. Instalansi Rawat darurat (IRD) 24 jam

2. Farmasi / apotek 24 jam

3. Rawat Jalan / Polikklinik spesialis

4. Bedah Sentral

5. Central Sterilized Suplay Departement (CSSD)

6. Unit Rawat intensif (ICU, NICU)

7. Rehabilitas Medik

8. Radiologi

9. Laboraturium Klinik

10. Patologi Anatomi

11. Bank Darah

b. Pelayanan Rawat Jalan

1. Polikklinik spesialis Penyakit Dalam

2. Polikklinik sub spesialis Bedah

3. Polikklinik spesialis kebidanan dan Penyakit kandungan

4. Polikklinik spesialis Anak

5. Polikklinik spesialis Mata

6. Polikklinik spesialis THT

7. Polikklinik spesialis Syaraf

8. Polikklinik spesialis Kulit Kelamin

9. Polikklinik spesialis Jiwa

10. Polikklinik spesialis Rehabilitasi medik

11. Polikklinik Jantung

12. Polikklinik Gigi

13. Polikklinik Akupuntur

14. Polikklinik Psikologi

c. Pelayanan Rawat Inap

1. Rawat Inap Kebidanan dan Penyakit Kandungan

2. Rawat Inap Anak

3. Perawatan Umum Bedah

4. Perawatan Umum Laki-laki

5. Perawatan Umum Perempuan

6. Perawatan Umum Non Infeksi

7. Rawat Inap VIP dan VVIP

B. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar
1.1. Defenisi

Hernia inguinalis adalah protusio usus lewat kanalis inguinalis yang abnormal. Keadaan ini bisa kongenital atau akuisita dan lebih sering ditemukan pada laki-laki.

Hernia inguinalis indirek disebut juga hernia inguinalis lateralis Karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak dari pembuluh darah epigastrika inferior, kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang maka akan menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus.apabila hernia ini berlanjut akan turun sampai ke scrotum disebut hernia scrotalis.
(Syamsuhidayat R. 1997 hal 704-705)

1.2. Etiologi

Penyebab biasanya tidak diketahui tetapi bisa terjadi karena :

· Kelemahan otot pada jaringan penyokong

· Meningkatnya tekanan intra abdominal seperti batuk kronik, asites, konstipasi.

Factor terjadinya hernia ini pada dewasa:

· Pertambahan usia

· Kegemukan

· Merokok

1.3. Anatomi Fisiologi
Hernia terdiri dari :
a. Kantong

Terdiri dari diverfikulum peritoneum yang dibagi atas mulut, serviks, korvus dan fundus.

b. Isi
1. Omentum
2. Usus : Seluruh / sebagian lingkaran usus
3. Kandung kencing
4. Ovarium dengan / tanpa tuba fallopi
5. Apendiks
6. Divertikel meckel
7. Cairan sebagian dari asites

b. Penutup

Berasal dari lapisan dinding abdomen yang keluar melalui lubang kantung. (Mowschenson M. Peter, 1990 hal 190)

Kanalis inguinalis lateralis dibatasi dikraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian dari fasia tranversalis dan aponeurosis. Musculus transverses abdominalis dimedia bawah, diatas tuberkulum pubikum kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus.

1.4. Patofisiologi

Kongenital dan akuisita

Peningkatan tekanan Intra Abdomen Kelemahan Otot

Invaginasi Kanalis inguinalis

Penumbatan Usus SpasmeOtot

Stragulasi / Usus Terjepit Stragulasi Usus

1

Nyeri

Passage usus tidak ada

Gangren

Vaskularasi Terganggu Aktivitas Menurun

Intoleransi Aktivitas

3


2

Distorsi Abdomen

Mual dan Muntah Keterangan : 1. Nyeri 2. IntoleransiAktivitas

Potensial Gangguan Nutrisi

Kurang Dari Kebutuhan

3. Gangren

4

Type equation here. 4. Potensial ganggua nutrisi kurang dari kebutuhan

1.5. Gejala Dan Tanda
- Pada orang dewasa

• Laki-laki : benjolan didaerah inguinal yang dapat mencapai scrotum

• Wanita : benjolan dapat mencapai labium majus

- Pada anak-anak : bila menangis timbul benjolan pada abdomen bagian bawah dapat mencapai srotum/ labium majus.
Mula-mula benjolan ini baik pada anak-anak maupun orang dewasa, bila berbaring benjolan akan hilang karena isi kantong hernia masuk kembali kedalam cavum abdomen. (Bratajaya, cetakan I)

1.6. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiografi

Tampak bayangan udara dibelakang jantung pada foto toraks
2. Endoskopi

Pada pemeriksaan endoskopi dapat segera ditentukan komplikasi yang mungkin timbul akibat hernia dan dilakukan pemeriksaan biopsy jaringan untuk pemeriksaan histopatologi.

1.7. Komplikasi
Komplikasi pra bedah

a. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis ireponibilis.

b. Terjadi penekanan terhadap dinding hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk. Cicin hernia menjadi telatif sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis inkarserata.

c. Bila inkarserata dibiarkan maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis strangulate.

Komplikasi pasca bedah

a. 10% pasien mengalami herniorafi inguinalis. Jarang dilaporkan penempatan jahitan yang kurang hati-hati pada pembuluh darah iliaka eksterna atau femoralis.

b. Retensi urin bisa merupakan masalah dan diperlukan kateterisasi. Perdarahan scrotum bisa bisa timbul dan mungkin diperlukan operasi ulang untuk pengendalian.

1.8 Penatalaksanaan

a. Medis

ü Antasida : dosis 15-30 ml (syrup) untuk menetralkan asam lambung

ü Gavison : 2-3 tablet setiap hari untuk membentuk gel alkali lambung

ü Metoklopramid : 10-20 mg ( perektal) setiap hari, 4 kali setiap hari selama 16 minggu.

ü Menghasilkan perbaikan frekuensi dan beratnya heatburn, antiemesis, gangguan peristaltic yang lemah dan setelah pembedahan.

ü Kolinergik : 25 mg betanol 4 kali setiap hari selama 2 bulan (supositoria) menghasilkanperbaikan yang nyata terhadap keluhan heatburn dan dapat

ü mengurangi pemakaian antasida.

ü Simetidin : 1,6 gr perhari selama 4 minggu ( intravena ) menghambat sekresi asam lambung

b. Keperawatan
1. Pra operasi

ü Pertahankan penghisapan oksigen

ü Beri posisi semi fowler

ü Bantu dengan prosedur diagnostic dan pra operasi

ü Jaga agar kantong visera tetap lembab

ü Beri obat-obatan

ü Gunakan unit penghangat overhand

ü Puasakan

ü Gunakan tindakan kenyamanan

2. Pasca operasi

ü Gunakan perawatan dan observasi secara rutin

ü Gunakan tindakan kenyamanan

ü Waspadai tanda-tanda signifikan

ü Lakukan perawatan pasca operasi secara rutin

C. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Hernia Inguinalis

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dalam asuhan keperawatan yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan pasien. Pengkajian yang benar dan terarah akan memudahkan dalam merencanakan tindakan evaluasi dari tindakan yang telah dilaksanakan. Pengkajian pada pasien dilakukan secara sistemik dan berisikan informasi subjektif dan objektif dari pasien yang diperoleh melalui wawancara dan pemeriksaan fisik.


Berdasarkan pengkajian yang didapat setelah operasi yaitu :

1. Identitas klien

· Anamnesa didapatkan dari pasien dimulai dari data diri pasien dan data keluarga pasien meliputi nama, umur, pekerjaan, agama, alamat, pendidikan.

2. Riwayat Kesehatan

· Riwayat kesehatan didapatkan dari keluhan utama:

Terdapat benjolan pada lipatan paha atau perut bagian bawah. Benjolan dapat keluar dan masuk didaerah kemaluan. Bisa terjadi obstruksi usus seperti bising usus ,mual dan muntah.

· Status Kesehatan Dahulu

1, Ada atau tidak penyakit hernia konginetal

2. Bila terjadi pada usia lanjut.Disebabkan adanya tekanan intraabdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama misalnya batuk kronis, konstipasi kronis, gangguan proses kencing (hipertropi prostat, striktur uretra), ascites dan sebagainya.

· Status Kesehatan Keluarga

adanya anggota keluarga yang menderita penyakit penyakit hernia

· Aktivitas / Istirahat

Gejala : Ketidak mampuan unutk melakukan aktivitas sehari-hari karena adanya luka jahit yang terasa nyeri

Tanda : Luka belum sembuh dan masih basah

· Sirkulasi
Gejala : Tekanan darah normal
Tanda : Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 74 x / menit

· Integritas ego
Gejala : Peningkatan factor resiko
Tanda : Ansietas, peka terhadap rangsangan

· Makan /cairan
Gejala : Tidak ada gangguan dalam pemasukan nutrisi dan cairan
Tanda : Turgor kulit bagus, konjungtiva tidak anemi

· Hygiene
Gejala : Peningkatan kebutuhan bantuan dalam membersihkan badan
Tanda : Dibantu oleh orang lain dalam mengelap badan

· Pernafasan
Gejala : Pernafasan normal
Tanda : Tidak ada riwayat infeksi saluran nafas

· Keamanan
Gejala : Resiko tinggi terhadap infeksi
Tanda : Luka masih basah

· Interaksi sosial
Gejala : Ketergantungan terhadap orang sekitar dalam melakukan aktifitas
Tanda : Semua aktifitas dibantu oleh orang lain

2. Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan

a) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi .

Tupen: Dalam waktu 1x24 jam pasien tidak cemas lagi dengan kriteria klien tampak tenang dan nyaman.

Tupan: Cemas hilang

INTERVENSI

RASIONALISASI

· Terangkan tentang penyakit dan pengobatan

· Beri motivasi pada pasien

· Beri informasi tentang pengobatan

· Libatkan orang terdekat klien untuk mendukung klien

· Pasien mengerti dan mau bekerja sama

· Agar pasien tidak cemas

· Agar pasien mengetahui tentang pengobatan penyakitnya

· Orang terdekat klien biasanya sangat menguntungkan baik untuk klien / orang terdekat (sering kontak langsung)

b) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan ditandai dengan pasien meringis kesakitan, luka masih basah, mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman.

Tupen : Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang dengan kriteria klien tampak rileks

Tupan : Nyeri teratasi

INTERVENSI

RASIONALISASI

· Kaji tingkat nyeri

· Monitor tanda – tanda vital

· Lakukan perawatan luka

· Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

· Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan luka

· Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

· Untuk mengetahui skala nyeri yang terjadi pada pasien

Skala nyeri : 1 – 10.

1 – 4 : Wajah tenang menahan kesakitan

5 – 7 : Wajah meringis dan memegang daerah nyeri

8 – 10 : Ekspresi wajah menangis menahahn nyeri

· Mengenal dan mempermudah tindakan keperawatan

· Mengurangi rsiko terjadinya infeksi

· Membantu klien merasa lebih nyaman

· Mempermudah dalam melakukan perawatan luka

· Analgesic berguna mengurangi rasa nyeri

3. Implementasi

Diagnosa Keperawatan 1 :

1. Menerangkan tentang penyakit dan pengobatan

2. Memberi motivasi pada pasien

3. Memberi informasi tentang pengobatan

4. Melibatkan orang terdekat klien untuk mendukung klien

Diagnosa Keperawatan 2 :

1. Mengkaji tingkat nyeri

2. Memonitor tanda-tanda vital

3. Melakukan perawatan luka

4. Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

5. Melibatkan keluarga dalam perawatan luka

6. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

4. Evaluasi

Diagnosa Keperawatan 1 :

S : Klien mengatakan rasa cemasnya berkurang

O : Wajah klien tampak tenang

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

Diagnosa Keperawatan 2 :

S : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang

O : Klien tampak masih meringis

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. “ M” DENGAN PRE OP DAN POST OF HERNIA INGUINALIS DEXTRA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD PALEMBANG BARI

A. PENGKAJIAN

I. Identitas Klien dan Penanggung Jawab

a. Identitas Klien

Nama : Tn. “M”

Umur : 60 tahun

Alamat : Jl. Keramasan RT. 008/ 003 Kec. Kertapati Palembang

Agama : Islam

Suku Bangsa : Indonesia

Jenis Kelamin : Laki - laki

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Buruh tani

Tanggal MRS : 31 Januari 2011

Tanggal Pengkajian :01 Februari 2011

Tanggal operasi :02 Februari 2011

No. Med. Rec : 37. 94. 31

Diagnosa Medis : Hernia Inguinalis Dextra

b. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. “Y”

Umur : 33 tahun

Alamat : Jl. Keramasan RT. 008/ 003 Kec. Kertapati Palembang

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Buruh

Hub. dengan keluarga : Anak Kandung

II. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri di bagian perut sebelah kanan post op, susah bergerak dan aktivitasnya terganggu.

b. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang

± Pada tahun 2008-2009 Klien mengatakan ketika ia beraktivitas, klien merasakan adanya benjolan di bagian perut sebelah kanan yang membuat klien merasakan nyeri tetapi pada saat klien beristirahat benjolan tersebut hilang. Lama kelamaan klien mengatakan benjolan tersebut kian hari kian membesar dan membuat klien merasakan nyeri dibagian tersebut. Sakit kepala (-), Demam (-).

c. Riwayat penyakit Terdahulu

Klien mengatakan belum pernah mengalami atau menderita penyakit ini sebelumnya

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan tidak ada keluarganya yang mengalami penyakit ini.

e. Riwayat Psikososial dan Spiritual

1. Riwayat psiko

Sebelum sakit : Klien tidak ada gangguan kejiwaan (Baik )

Setelah sakit : Klien merasa gelisah dan cemas terhadap tindakan operasi

2. Riwayat Sosial

Sebelum sakit : Hubungannya baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Setelah sakit : Hubungan klien tetap terjalin baik dengan keluarga dan lingkungannya.

3. Riwayat spiritual

Klien tetap menjalankan shalat dan berdo’a.

III. Pola Aktivitas Sehari – hari

No.

Aktivitas

Sebelum sakit

Selama di Rumah Sakit

1.

2.

3.

4.

5.

Pola Nutrisi

ü Makan

Frekuensi

Porsi makanan

ü Minum

Frekuensi

Pola Eliminasi

ü BAK

Frekuensi

Warna

ü BAB

Frekuensi

Warna

Pola Istirahat dan tidur

ü Tidur

- Siang

- Malam

Pola Aktivitas

Personal Hygiene

ü Mandi

ü Gosok gigi

ü Mencuci rambut

3 x sehari

1 piring

7 – 8 gelas per hari

3 – 4 kali/hari

Kuning

1 – 2 kali sehari

Kuning

1 – 2 jam

5 – 8 jam

Dilakukan dengan mandiri

2 x sehari

2 x sehari

3 x seminggu

3 x sehari

1 piring

4 – 5 gelas per hari

2 –3 kali/ hari

Kuning

1 x sehari

Kuning

3 – 4 jam

6 – 7 jam

Total care / dengan bantuan

Hanya di lap dengan air hangat

Tidak pernah

Tidak pernah

IV. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

Kesadaran : compos mentis

BB : 66 kg

TB : 172 cm

Tanda – tanda Vital ( TTV )

TD : 130 / 80 mmHg

RR : 24 x/menit

T : 36,50C

Nadi : 88 x/menit

2. Keadaan Khusus

Kepala

Bentuk : Simetris

Rambut : Kering dan ada uban

Kebersihan : bersih, tidak ada kotoran yang menempel di kulit kepala

Mata

Bentuk : simetris

Pupil : isokor

Konjungtiva : baik

Sclera : sedikit ikterik

Penglihatan : baik

Kebersihan : bersih, tidak ada kotoran

Hidung

Bentuk : simetris

Penciuman : baik

Kebersihan : bersih

Mulut

Gigi : rusak, berlubang

Mulut : bersih

Bibir : mukosa lembab

Lidah : sedikit kotor

Tonsil : tidak merah

Telinga

Pendengaran : baik

Bentuk : simetris

Kebersihan : ada kotoran sedikit

Leher

Bentuk : simetris

Gerakan : baik

Kebersihan : bersih

Dada

Inspeksi : Bentuk simetris

Palpasi : Tidak terdapat nyeri

Nyeri dada : tidak ada

Abdomen

Inspeksi

Bentuk : simetris

Keadaan : tampak adanya luka di perut bagian kanan bekas post operasi, dengan gambaran luka seperti berikut :

panjang luka 5 cm

Luka operasi

P= 5 cm


Perkusi
Terdengar bunyi thympani pada daerah abdomen

Palapasi
Nyeri tekan daerah abdomen kanan bawah

Nyeri tekan : ada, scala 5 - 6

Auskultasi
Bising usus terdengar agak lemah 5x/mnt

Alat genitalia

Kebersihan : bersih

Masalah : tidak ada

Kulit

Turgor : kurang elastis

Warna : sawo matang

Kebersihan : bersih

Ektremitas atas dan bawah

Bentuk : simetris

Kelaianan : tidak ada

Edema : tidak ada

V. Pengobatan

- Bedrest selama 24 jam, bius spinal

- IVFD RL gtt 20x/menit

- Injeksi cefotaxime 2x1 gr

- Injeksi cetorolac 3x1 amp

ANALISA DATA

NO.

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

1.

2.

Pre off :

Tanggal 01 Februari 2011 pukul 17.30 WIB

DS :

Klien mengatakan bahwa dirinya cemas dengan tindakan operasi yang akan dilakukan pada daerah perutnya.

DO :

§ Tampak wajah pasien seperti ketakutan.

§ Pasien sering menanyakan tentang penyakitnya dengan perawat dan dokter

Post of hari 1:

Tanggal 02 Februari 2011 pukul 08.30

DS :

Klien mengatakan nyeri pada daerah perut bagian kanan

DO :

- Ekspresi klien tampak meringis dengan skala nyeri

5 – 6

Tampak luka operasi pada daerah perut bagian kanan

§ Nadi : 86 x/menit

§ RR : 24 x/menit

§ TD : 130/80 mmHg

§ T : 37C

Pendidikan yang rendah

Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan tindakan operasi

Ansietas

Jaringan luka post op

Inflamasi ( proses penyembuhan )

Reaksi reseptor saraf meningkat

Nyeri

Ansietas

Nyeri

2. Diagnosa Keperawatan

1. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

2. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan ditandai dengan pasien meringis kesakitan, luka masih basah, mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman.

3. Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Intervensi

Rasionalisasi

1.

Pre operasi :

Tanggal 1 Februari 2011

Jam : 17.30 WIB

Ansietas

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

DS :

-Klien mengatakan cemas terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan

DO :

- Wajah klien terlihat cemas,takut

- Klien sering bertanya tentang penyakitnya dengan perawat dan dokter

Tupan :

Pasien dan keluarga mengetahui informasi tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

Tupen :

Dalam waktu 1x24 jam

Rasa cemas klien berkurang

Dan klien tampak tenang

Tanggal :

1 Februari 2011

Jam : 17.30 WIB

1. Terangkan tentang penyakit dan pengobatan (Pendidikan)

2. Beri motivasi pada pasien

3.Beri informasi tentang pengobatan

1. Pasien mengerti dan mau bekerja sama

2. Agar pasien tidak cemas

3. Agar pasien mengetahui tentang pengobatan penyakitnya

2.

Post operasi :

Tanggal

02 Februari 2011

Jam : 15.00

Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan ditandai dengan pasien meringis kesakitan, luka

DS :

Klien megatakan nyeri pada daerah perut sebelah kana

DO :

-Wajah klien tampk meringis(dengan skala nyeri 5 – 6.

-tampak luka pada daerah perut sebelah kanan

TD : 130/80 mmHg

T : 370 c

RR : 24x/menit

Nadi : 88x/menit

Tupan :

-Nyeri teratasi

Tupen:

Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang dengan kriteria klien tampak rileks.

TTV tetap stabil

Tanggal

2 Februari 2011

Jam : 15.30

1. Kaji tingkat nyeri

2. Monitor tanda – tanda vital

3. Lakukan

perawatan luka

4. Anjurkan klien istirahat di tempat tidur

5. Atur posisi klien senyaman mungkin

6. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

1. Untuk mengetahui skala nyeri yang terjadi pada pasien

Skala nyeri : 1 – 10.

1 – 4 : wajah tenang menahan kesakitan

5 – 7 : wajah meringis dan memegang daerah nyeri

8 – 10 : ekspresi wajah menangis menahan nyeri

2. Mempermudah dalam menentukan intervensi selanjutnya

3. Mengurangi resiko terjadinya infeksi

4. Mengurangi intensitas nyeri

5. Mencegah ketegangan otot dan mengurangi intensitas nyeri serta memberikan rasa nyaman

6. Membantu klien merasa lebih nyaman

7. Mengurangi rasa nyeri pada klien

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

NO. Diagnosa

Implementasi

Evaluasi

1.

Pre op

Hari, tanggal : Senin, 31 Januari 2011

Pukul : 17.30 WIB

1. Menerangkan tentang penyakit dan pengobatan

2. Memberi motivasi pada pasien

3. Memberi informasi tentang pengobatan

4. Melibatkan orang terdekat klien untuk mendukung klien

Pre op :

Hari, tanggal : Senin , 01 Januari 2011

Pukul : 19.45 WIB

S : Klien mengatakan rasa cemasnya berkurang

O : Wajah klien tampak tenang, klien mengerti tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

2.

Post op hari 1

Hari, tanggal : Rabu, 02 Februari 2011 ( post op hari 1 )

Pukul : 17.00 WIB

1. Mengkaji tingkat nyeri

2. Memonitor tanda-tanda vital

3. Melakukan perawatan luka

4. Menganjurkan klien untuk istirahat di tempat tidur

5. Mengatur posisi klien senyaman mungkin

6. Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

7. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

Post op hari 1

Hari, tanggal : Rabu, 02 Februari 2011

Pukul : 10.30 WIB

S : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang

O : Klien tampak rileks, luka tampak masih basah

Tanda-Tanda Vital :

- TD : 120 / 80 mmHg

- RR : 20 x/menit

- T : 36,50C

- Nadi : 82 x/menit

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi di lanjutkan.

BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dibahas tentang kesenjangan antara teori dengan praktik yang terjadi dilapangan selama mengkaji, mengintervensi dan mengimplementasi pasien hernia inguinalis dextra di RSUD Palembang BARI.

Asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan post op hernia inguinalis dextra meliputi pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan post op hernia inguinalis dextra dapat dikaji dari keadaan umum, tanda – tanda vital dan inspeksi pada bagian abdomen, luka post op, auskultasi bising usus, palpasi nyeri tekan dan perkusi adanya perut kembung. Sedangkan diagnose yang diangkat pada asuhan keperawatan post op hernia inguinalis adalah ansietas ( rasa cemas) dan nyeri.

Tindakan untuk diagnose ansietas adalah memberikan pendidikan tentang penyakit yang dialami oleh pasien, buat pasien tenang dengan teknik komunikasi yang baik sedangkan Tindakannya untuk diagnose nyeri meliputi monitor tanda – tanda vital dan skala nyeri, anjurkan klien istirahat ditempat tidur, melakukan perawatan luka setiap hari, dan kolaborasi dalam pemberian terapi obat ( analgesic ).

Pada pelaksanaan pengkajian setelah operasi didapati pasien dengan kecamasan yang cukup tinggi ditandai dengan tekanan darah yang meningkat. Pasien cemas dikarenakan ketidak tahuan merawat luka pasca operasi.

Pelaksanaan perawatan luka post op yang kami lakukan adalah mengganti balutan perban pasca operasi dan memonitori kebersihan luka dengan menerapkan prinsip steril, guna mencegah terjadinya infeksi pada luka klien. Prinsip steril yang di gunakan membuat klien merasa percaya dengan tindakan asuhan keperawatan yang kami berikan, Lingkungan rumah sakit di harapkan mempertahankan dan menjaga prinsip kesterilan dalam praktek lapangan, untuk mengurangi kontaminasi organisme dan tetap menjaga hak – hak privasi klien sehingga pelayanan dan mutu pelayanan keperawatan lebih baik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hernia inguinalis dextra adalah penonjolan isi perut inguinalis sebelah kanan, hernia inguinalis ini dapat terjadi karena congenital atau dapat di jumpai pada usia, baik perempuan maupun laki – laki.

Asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien post op Hernia Inguinalis Dextra pasien Tn. “M” meliputi pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Pada pengkajian di temukan keadaan klien komposmentis, tanda – tanda vital, TD : 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhunya 36,5C, dan pernapasan 20 x/menit. Inspeksi pada bagian abdomen, terdapat luka post op yang panjang luka 5cm. Ada nyeri tekan dengan skala 5-6.

Diagnosa yang diangkat pada asuhan keperawatan pada Tn. “M” dengan post op hernia inguinalis dextra adalah nyeri dan ansietas. Tindakan untuk diagnose nyeri meliputi memonitor tanda – tanda vita dan skala nyeri, anjurkan klien istirahat di tempat tidur,atur posisi klien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam, dan kolaborasi dalam penberian obat terapi ( analgesic ) yang di berikan adalah injeksi ceterolac 3x1 amp. IVFD RL gtt 20x/menit, dan injeksi cefotaxime. Sedangkan tindakan untuk diagnose ansietas adalah memberikan pendidikan tentang penyakit hernia yang dialami oleh klien.

Pada pasien dengan indikasi nyeri tekan pada daerah post op dan dapat dilakukan dengan perawatan luka. Guna mencegah rasa nyeri dan infeksi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan, evaluasi yang di dapat adalah nyeri tampak berkurang dan ansietas tidak terjadi. Intervensi keperawatan tetap dilanjutkan dan terapi medis tetap diberikan. Klien di bolehkan pulang pada tanggal 4 Februari 2011.

B. SARAN

1. Bagi RSUD Palembang BARI

Diharapkan agar tetap terus meningkatkan sarana dan prasaran RSUD Palembang BARI. Bagi tenaga pelayan kesehatan di RSUD Palembang BARI, untuk tetap menjaga prinsip kesterilan dan privasi klien.

2. Bagi institusi Pendidikan

Diharapkan untk lebih meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan bimbingan serta latihan sebagi penunjang untuk pelaksanaan praktik dan pembuatan makalah, agar dapat meningkatkan ilmu pengetahuan selama proses pembelajaran.

3. Bagi Mahasiswa

Diharapkan agar dapat mengaplikasikan teori yang di dapat dengan sebbaik – baiknya dalam praktek lapangan serta memahami dan melaksanakan keterampilan praktek lapangan sesuai dengan prosedur yang baik dan benar.