Minggu, 27 Maret 2011

Askep Pasien Post Op Hernia Inguinalis Dextra

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hernia inguinalis merupakan masalah kesehatan yang sering kita temukan di dalam masyarakat, penyakit ini kebanyakan menimpa pada kaum laki – laki, tak jarang juga penyakit ini juga menjadi penyakit yang sangat membuat kaum laki – laki merasa malu pada saat berobat, sehingga penderita hernia ini lebih memilih pengobatan yang secara tradisional yang berupa terapi ke dukun ataupun paranormal. Di dukung juga dengan tingkat pendidikan yang rendah, membuat para penderita lebih lebih percaya kepada pengobatan non medis. Hal ini yang juga yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam penanganan penyakit.

Dalam sejarahnya pada tahun 1552 SM di Mesir telah dilaporkan pengobatan untuk Hernia Inguinalis dengan melakukan suatu tekanan dari luar. Galen pada tahun 176 M melaporkan penurunan duktus testikularis melalui lubang kecil pada lower abdomen,kemudian ia meneliti dari awal tentang sebab pertama kali melaporkan pengobatan bedah terhadap hernia ( Girl & Mantu, 2000 dalam www. Scribd.com )

Dari data – data pasien, hernia inguinalis adalah sebanyak 98 kasus selama tahun 2010 di RSUD Palembang BARI di ruang Perawatan Bedah (Medical Record RSUD Palembang BARI Palembang)

Maka dari itu kami lebih tertarik untuk mengambil Asuhan Keperawatan pada Tuan “M” dengan Pre op dan Post Op Hernia Inguinalis Dextra di ruang Perawatan bedah RSUD Palembang BARI.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memberikan Asuhan keperawatan kepada Tn. “M” dengan pre op dan post op Hernia Inguinalis.

2. Tujuan Khusus

- Dapat melakukan pengkajian secara tepat kepada Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat mengetahui diagnose keperawatan yang tepat pada Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat mengetahui intervensi yang akan dibuat untuk Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat melakukan implementasi keperawatan yang tepat untuk Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

- Dapat mengetahui evaluasi keperawatan pada Tn.”M” dengan Hernia Inguinalis Dextra.

C. WAKTU

Asuhan keperawatan Tn.”M” dilakukan pada tanggal 31 Januari - 02 Februari 2011.

D. TEMPAT

Asuhan keperawatan dilakukan di ruang perawatan bedah RSUD Palembang BARI Palembang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PROFIL RSUD PALEMBANG BARI

1. SELAYANG PANDANG

Rumah Sakit Umum daerah Palembang BARI merupakan unsur penunjang pemerintah daerah dibidang kesehatan yang merupakan yang merupakan satu – satunya rumah sakit umum milik pemerintah kota palembang. Rumah Sakit Umum Palembang BARI terletak di jalan Panca Usaha No. 1 Kelurahan 5 Ulu Darat Kecematan seberang Ulu dan berdiri di atas tanah seluas 4,5 H.

Bangunan berada lebih kurang 800 meter dari jalan Raya jurusan kertapati. Sejak tahun 2010 dibuat jalan alternatif dari Jakabaring menuju RSUD Palembang BARI. Saat ini sedang diupayakan pembangunan jalan langsung menuju RSUD Palembang BARI dari jalan poros Jakabaring .

2. VISI MISI DAN MOTTO

VISI

Rumah Sakit andalan dan terpercaya di Sumatrera Selatan.

MISI

1. Melaksanakan pelayanan kesehatan yang bermutu.

2. Melaksanakan manajemen administrasi yang efektif dan efisien.

MOTTO

“ Anda sembuh, kami puas “

“ Anda puas, kami bahagia “

3. SEJARAH

1. Sejarah Berdirinya

§ Pada tahun 1985 sampai tahun 1994 RSUD Palembang BARI merupakan gedung polikklinik atau Puskesmas Panca Usaha.

§ Pada Tanggal 19 juni 1996 diresmikan menjadi RSUD Palembang BARI dengan SK Depkes No. 1362/Menkes/SK/XI/1997, tanggal 10 november 1997 ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah kelas C

§ Kepmenkes RI Nomor : HK.00.06.2.2.4646 tentang pemberian status akreditas penuh tingkat dasar kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 7 November 2003

§ Kepmenkes RI Nomor : YM.01.10/III/334/08 tentang pemberian status akreditas penuh tingkat lanjut kepada Rumah sakit Umum Daerah Palembang BARI, tanggal 5 februari 2008.

§ Kepmenkes RI Nomor : 241/MENKES/SK/IV/2009 tentang peningkatan kelas Rumah sakit umum daerah palembang BARI menjadi kelas B, tanggal 2 April 2009.

§ Ditetapkan sebagai BLUD-SKPD RSUD Palembang BARI berdasarkan keputusan Walikota Palembang N0.195 B tahun 2008 tentang Penetapan RSUD Palembang BARI sebagai SKPD Palembang yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD (PPK-BLUD) secara penuh.

2. Sejarah Pemegang Jabatan

§ Tahun 1986 s.d 1995 : dr. jane Lidya Titahelu sebagai Kepal Polikklinik/Puskesmas Panca Usaha.

§ Tanggal 1 Juli 1995 s.d juni 2000 : dr. Eddy Zarkaty Monasir, Sp. OG sebagai Direktur RSUD Palembang BARI.

§ Bulan Juli 2000 s.d November 2000 : Pelaksana tugas dr. H. dachlan Abbas, S.pB

§ Bulan desember 2000 s.d februari 2001 : Pelaksana tugas dr. M. faisal Soleh, Sp. PD

§ Tanggal 14 November 2000 s.d sekarang dr. H. Indah Puspita H. A, MARS sebagai Direktur RSUD Palembang BARI.

4. FASILITAS DAN PELAYANAN

a. Fasilitas

1. Instalansi Rawat darurat (IRD) 24 jam

2. Farmasi / apotek 24 jam

3. Rawat Jalan / Polikklinik spesialis

4. Bedah Sentral

5. Central Sterilized Suplay Departement (CSSD)

6. Unit Rawat intensif (ICU, NICU)

7. Rehabilitas Medik

8. Radiologi

9. Laboraturium Klinik

10. Patologi Anatomi

11. Bank Darah

b. Pelayanan Rawat Jalan

1. Polikklinik spesialis Penyakit Dalam

2. Polikklinik sub spesialis Bedah

3. Polikklinik spesialis kebidanan dan Penyakit kandungan

4. Polikklinik spesialis Anak

5. Polikklinik spesialis Mata

6. Polikklinik spesialis THT

7. Polikklinik spesialis Syaraf

8. Polikklinik spesialis Kulit Kelamin

9. Polikklinik spesialis Jiwa

10. Polikklinik spesialis Rehabilitasi medik

11. Polikklinik Jantung

12. Polikklinik Gigi

13. Polikklinik Akupuntur

14. Polikklinik Psikologi

c. Pelayanan Rawat Inap

1. Rawat Inap Kebidanan dan Penyakit Kandungan

2. Rawat Inap Anak

3. Perawatan Umum Bedah

4. Perawatan Umum Laki-laki

5. Perawatan Umum Perempuan

6. Perawatan Umum Non Infeksi

7. Rawat Inap VIP dan VVIP

B. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar
1.1. Defenisi

Hernia inguinalis adalah protusio usus lewat kanalis inguinalis yang abnormal. Keadaan ini bisa kongenital atau akuisita dan lebih sering ditemukan pada laki-laki.

Hernia inguinalis indirek disebut juga hernia inguinalis lateralis Karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak dari pembuluh darah epigastrika inferior, kemudian hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang maka akan menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus.apabila hernia ini berlanjut akan turun sampai ke scrotum disebut hernia scrotalis.
(Syamsuhidayat R. 1997 hal 704-705)

1.2. Etiologi

Penyebab biasanya tidak diketahui tetapi bisa terjadi karena :

· Kelemahan otot pada jaringan penyokong

· Meningkatnya tekanan intra abdominal seperti batuk kronik, asites, konstipasi.

Factor terjadinya hernia ini pada dewasa:

· Pertambahan usia

· Kegemukan

· Merokok

1.3. Anatomi Fisiologi
Hernia terdiri dari :
a. Kantong

Terdiri dari diverfikulum peritoneum yang dibagi atas mulut, serviks, korvus dan fundus.

b. Isi
1. Omentum
2. Usus : Seluruh / sebagian lingkaran usus
3. Kandung kencing
4. Ovarium dengan / tanpa tuba fallopi
5. Apendiks
6. Divertikel meckel
7. Cairan sebagian dari asites

b. Penutup

Berasal dari lapisan dinding abdomen yang keluar melalui lubang kantung. (Mowschenson M. Peter, 1990 hal 190)

Kanalis inguinalis lateralis dibatasi dikraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian dari fasia tranversalis dan aponeurosis. Musculus transverses abdominalis dimedia bawah, diatas tuberkulum pubikum kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus.

1.4. Patofisiologi

Kongenital dan akuisita

Peningkatan tekanan Intra Abdomen Kelemahan Otot

Invaginasi Kanalis inguinalis

Penumbatan Usus SpasmeOtot

Stragulasi / Usus Terjepit Stragulasi Usus

1

Nyeri

Passage usus tidak ada

Gangren

Vaskularasi Terganggu Aktivitas Menurun

Intoleransi Aktivitas

3


2

Distorsi Abdomen

Mual dan Muntah Keterangan : 1. Nyeri 2. IntoleransiAktivitas

Potensial Gangguan Nutrisi

Kurang Dari Kebutuhan

3. Gangren

4

Type equation here. 4. Potensial ganggua nutrisi kurang dari kebutuhan

1.5. Gejala Dan Tanda
- Pada orang dewasa

• Laki-laki : benjolan didaerah inguinal yang dapat mencapai scrotum

• Wanita : benjolan dapat mencapai labium majus

- Pada anak-anak : bila menangis timbul benjolan pada abdomen bagian bawah dapat mencapai srotum/ labium majus.
Mula-mula benjolan ini baik pada anak-anak maupun orang dewasa, bila berbaring benjolan akan hilang karena isi kantong hernia masuk kembali kedalam cavum abdomen. (Bratajaya, cetakan I)

1.6. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiografi

Tampak bayangan udara dibelakang jantung pada foto toraks
2. Endoskopi

Pada pemeriksaan endoskopi dapat segera ditentukan komplikasi yang mungkin timbul akibat hernia dan dilakukan pemeriksaan biopsy jaringan untuk pemeriksaan histopatologi.

1.7. Komplikasi
Komplikasi pra bedah

a. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis ireponibilis.

b. Terjadi penekanan terhadap dinding hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk. Cicin hernia menjadi telatif sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis inkarserata.

c. Bila inkarserata dibiarkan maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis strangulate.

Komplikasi pasca bedah

a. 10% pasien mengalami herniorafi inguinalis. Jarang dilaporkan penempatan jahitan yang kurang hati-hati pada pembuluh darah iliaka eksterna atau femoralis.

b. Retensi urin bisa merupakan masalah dan diperlukan kateterisasi. Perdarahan scrotum bisa bisa timbul dan mungkin diperlukan operasi ulang untuk pengendalian.

1.8 Penatalaksanaan

a. Medis

ü Antasida : dosis 15-30 ml (syrup) untuk menetralkan asam lambung

ü Gavison : 2-3 tablet setiap hari untuk membentuk gel alkali lambung

ü Metoklopramid : 10-20 mg ( perektal) setiap hari, 4 kali setiap hari selama 16 minggu.

ü Menghasilkan perbaikan frekuensi dan beratnya heatburn, antiemesis, gangguan peristaltic yang lemah dan setelah pembedahan.

ü Kolinergik : 25 mg betanol 4 kali setiap hari selama 2 bulan (supositoria) menghasilkanperbaikan yang nyata terhadap keluhan heatburn dan dapat

ü mengurangi pemakaian antasida.

ü Simetidin : 1,6 gr perhari selama 4 minggu ( intravena ) menghambat sekresi asam lambung

b. Keperawatan
1. Pra operasi

ü Pertahankan penghisapan oksigen

ü Beri posisi semi fowler

ü Bantu dengan prosedur diagnostic dan pra operasi

ü Jaga agar kantong visera tetap lembab

ü Beri obat-obatan

ü Gunakan unit penghangat overhand

ü Puasakan

ü Gunakan tindakan kenyamanan

2. Pasca operasi

ü Gunakan perawatan dan observasi secara rutin

ü Gunakan tindakan kenyamanan

ü Waspadai tanda-tanda signifikan

ü Lakukan perawatan pasca operasi secara rutin

C. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Hernia Inguinalis

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal dalam asuhan keperawatan yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan pasien. Pengkajian yang benar dan terarah akan memudahkan dalam merencanakan tindakan evaluasi dari tindakan yang telah dilaksanakan. Pengkajian pada pasien dilakukan secara sistemik dan berisikan informasi subjektif dan objektif dari pasien yang diperoleh melalui wawancara dan pemeriksaan fisik.


Berdasarkan pengkajian yang didapat setelah operasi yaitu :

1. Identitas klien

· Anamnesa didapatkan dari pasien dimulai dari data diri pasien dan data keluarga pasien meliputi nama, umur, pekerjaan, agama, alamat, pendidikan.

2. Riwayat Kesehatan

· Riwayat kesehatan didapatkan dari keluhan utama:

Terdapat benjolan pada lipatan paha atau perut bagian bawah. Benjolan dapat keluar dan masuk didaerah kemaluan. Bisa terjadi obstruksi usus seperti bising usus ,mual dan muntah.

· Status Kesehatan Dahulu

1, Ada atau tidak penyakit hernia konginetal

2. Bila terjadi pada usia lanjut.Disebabkan adanya tekanan intraabdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama misalnya batuk kronis, konstipasi kronis, gangguan proses kencing (hipertropi prostat, striktur uretra), ascites dan sebagainya.

· Status Kesehatan Keluarga

adanya anggota keluarga yang menderita penyakit penyakit hernia

· Aktivitas / Istirahat

Gejala : Ketidak mampuan unutk melakukan aktivitas sehari-hari karena adanya luka jahit yang terasa nyeri

Tanda : Luka belum sembuh dan masih basah

· Sirkulasi
Gejala : Tekanan darah normal
Tanda : Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 74 x / menit

· Integritas ego
Gejala : Peningkatan factor resiko
Tanda : Ansietas, peka terhadap rangsangan

· Makan /cairan
Gejala : Tidak ada gangguan dalam pemasukan nutrisi dan cairan
Tanda : Turgor kulit bagus, konjungtiva tidak anemi

· Hygiene
Gejala : Peningkatan kebutuhan bantuan dalam membersihkan badan
Tanda : Dibantu oleh orang lain dalam mengelap badan

· Pernafasan
Gejala : Pernafasan normal
Tanda : Tidak ada riwayat infeksi saluran nafas

· Keamanan
Gejala : Resiko tinggi terhadap infeksi
Tanda : Luka masih basah

· Interaksi sosial
Gejala : Ketergantungan terhadap orang sekitar dalam melakukan aktifitas
Tanda : Semua aktifitas dibantu oleh orang lain

2. Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan

a) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi .

Tupen: Dalam waktu 1x24 jam pasien tidak cemas lagi dengan kriteria klien tampak tenang dan nyaman.

Tupan: Cemas hilang

INTERVENSI

RASIONALISASI

· Terangkan tentang penyakit dan pengobatan

· Beri motivasi pada pasien

· Beri informasi tentang pengobatan

· Libatkan orang terdekat klien untuk mendukung klien

· Pasien mengerti dan mau bekerja sama

· Agar pasien tidak cemas

· Agar pasien mengetahui tentang pengobatan penyakitnya

· Orang terdekat klien biasanya sangat menguntungkan baik untuk klien / orang terdekat (sering kontak langsung)

b) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan ditandai dengan pasien meringis kesakitan, luka masih basah, mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman.

Tupen : Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang dengan kriteria klien tampak rileks

Tupan : Nyeri teratasi

INTERVENSI

RASIONALISASI

· Kaji tingkat nyeri

· Monitor tanda – tanda vital

· Lakukan perawatan luka

· Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

· Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan luka

· Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

· Untuk mengetahui skala nyeri yang terjadi pada pasien

Skala nyeri : 1 – 10.

1 – 4 : Wajah tenang menahan kesakitan

5 – 7 : Wajah meringis dan memegang daerah nyeri

8 – 10 : Ekspresi wajah menangis menahahn nyeri

· Mengenal dan mempermudah tindakan keperawatan

· Mengurangi rsiko terjadinya infeksi

· Membantu klien merasa lebih nyaman

· Mempermudah dalam melakukan perawatan luka

· Analgesic berguna mengurangi rasa nyeri

3. Implementasi

Diagnosa Keperawatan 1 :

1. Menerangkan tentang penyakit dan pengobatan

2. Memberi motivasi pada pasien

3. Memberi informasi tentang pengobatan

4. Melibatkan orang terdekat klien untuk mendukung klien

Diagnosa Keperawatan 2 :

1. Mengkaji tingkat nyeri

2. Memonitor tanda-tanda vital

3. Melakukan perawatan luka

4. Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

5. Melibatkan keluarga dalam perawatan luka

6. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

4. Evaluasi

Diagnosa Keperawatan 1 :

S : Klien mengatakan rasa cemasnya berkurang

O : Wajah klien tampak tenang

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

Diagnosa Keperawatan 2 :

S : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang

O : Klien tampak masih meringis

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. “ M” DENGAN PRE OP DAN POST OF HERNIA INGUINALIS DEXTRA DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD PALEMBANG BARI

A. PENGKAJIAN

I. Identitas Klien dan Penanggung Jawab

a. Identitas Klien

Nama : Tn. “M”

Umur : 60 tahun

Alamat : Jl. Keramasan RT. 008/ 003 Kec. Kertapati Palembang

Agama : Islam

Suku Bangsa : Indonesia

Jenis Kelamin : Laki - laki

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Buruh tani

Tanggal MRS : 31 Januari 2011

Tanggal Pengkajian :01 Februari 2011

Tanggal operasi :02 Februari 2011

No. Med. Rec : 37. 94. 31

Diagnosa Medis : Hernia Inguinalis Dextra

b. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. “Y”

Umur : 33 tahun

Alamat : Jl. Keramasan RT. 008/ 003 Kec. Kertapati Palembang

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Buruh

Hub. dengan keluarga : Anak Kandung

II. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri di bagian perut sebelah kanan post op, susah bergerak dan aktivitasnya terganggu.

b. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang

± Pada tahun 2008-2009 Klien mengatakan ketika ia beraktivitas, klien merasakan adanya benjolan di bagian perut sebelah kanan yang membuat klien merasakan nyeri tetapi pada saat klien beristirahat benjolan tersebut hilang. Lama kelamaan klien mengatakan benjolan tersebut kian hari kian membesar dan membuat klien merasakan nyeri dibagian tersebut. Sakit kepala (-), Demam (-).

c. Riwayat penyakit Terdahulu

Klien mengatakan belum pernah mengalami atau menderita penyakit ini sebelumnya

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan tidak ada keluarganya yang mengalami penyakit ini.

e. Riwayat Psikososial dan Spiritual

1. Riwayat psiko

Sebelum sakit : Klien tidak ada gangguan kejiwaan (Baik )

Setelah sakit : Klien merasa gelisah dan cemas terhadap tindakan operasi

2. Riwayat Sosial

Sebelum sakit : Hubungannya baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Setelah sakit : Hubungan klien tetap terjalin baik dengan keluarga dan lingkungannya.

3. Riwayat spiritual

Klien tetap menjalankan shalat dan berdo’a.

III. Pola Aktivitas Sehari – hari

No.

Aktivitas

Sebelum sakit

Selama di Rumah Sakit

1.

2.

3.

4.

5.

Pola Nutrisi

ü Makan

Frekuensi

Porsi makanan

ü Minum

Frekuensi

Pola Eliminasi

ü BAK

Frekuensi

Warna

ü BAB

Frekuensi

Warna

Pola Istirahat dan tidur

ü Tidur

- Siang

- Malam

Pola Aktivitas

Personal Hygiene

ü Mandi

ü Gosok gigi

ü Mencuci rambut

3 x sehari

1 piring

7 – 8 gelas per hari

3 – 4 kali/hari

Kuning

1 – 2 kali sehari

Kuning

1 – 2 jam

5 – 8 jam

Dilakukan dengan mandiri

2 x sehari

2 x sehari

3 x seminggu

3 x sehari

1 piring

4 – 5 gelas per hari

2 –3 kali/ hari

Kuning

1 x sehari

Kuning

3 – 4 jam

6 – 7 jam

Total care / dengan bantuan

Hanya di lap dengan air hangat

Tidak pernah

Tidak pernah

IV. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum

Kesadaran : compos mentis

BB : 66 kg

TB : 172 cm

Tanda – tanda Vital ( TTV )

TD : 130 / 80 mmHg

RR : 24 x/menit

T : 36,50C

Nadi : 88 x/menit

2. Keadaan Khusus

Kepala

Bentuk : Simetris

Rambut : Kering dan ada uban

Kebersihan : bersih, tidak ada kotoran yang menempel di kulit kepala

Mata

Bentuk : simetris

Pupil : isokor

Konjungtiva : baik

Sclera : sedikit ikterik

Penglihatan : baik

Kebersihan : bersih, tidak ada kotoran

Hidung

Bentuk : simetris

Penciuman : baik

Kebersihan : bersih

Mulut

Gigi : rusak, berlubang

Mulut : bersih

Bibir : mukosa lembab

Lidah : sedikit kotor

Tonsil : tidak merah

Telinga

Pendengaran : baik

Bentuk : simetris

Kebersihan : ada kotoran sedikit

Leher

Bentuk : simetris

Gerakan : baik

Kebersihan : bersih

Dada

Inspeksi : Bentuk simetris

Palpasi : Tidak terdapat nyeri

Nyeri dada : tidak ada

Abdomen

Inspeksi

Bentuk : simetris

Keadaan : tampak adanya luka di perut bagian kanan bekas post operasi, dengan gambaran luka seperti berikut :

panjang luka 5 cm

Luka operasi

P= 5 cm


Perkusi
Terdengar bunyi thympani pada daerah abdomen

Palapasi
Nyeri tekan daerah abdomen kanan bawah

Nyeri tekan : ada, scala 5 - 6

Auskultasi
Bising usus terdengar agak lemah 5x/mnt

Alat genitalia

Kebersihan : bersih

Masalah : tidak ada

Kulit

Turgor : kurang elastis

Warna : sawo matang

Kebersihan : bersih

Ektremitas atas dan bawah

Bentuk : simetris

Kelaianan : tidak ada

Edema : tidak ada

V. Pengobatan

- Bedrest selama 24 jam, bius spinal

- IVFD RL gtt 20x/menit

- Injeksi cefotaxime 2x1 gr

- Injeksi cetorolac 3x1 amp

ANALISA DATA

NO.

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

1.

2.

Pre off :

Tanggal 01 Februari 2011 pukul 17.30 WIB

DS :

Klien mengatakan bahwa dirinya cemas dengan tindakan operasi yang akan dilakukan pada daerah perutnya.

DO :

§ Tampak wajah pasien seperti ketakutan.

§ Pasien sering menanyakan tentang penyakitnya dengan perawat dan dokter

Post of hari 1:

Tanggal 02 Februari 2011 pukul 08.30

DS :

Klien mengatakan nyeri pada daerah perut bagian kanan

DO :

- Ekspresi klien tampak meringis dengan skala nyeri

5 – 6

Tampak luka operasi pada daerah perut bagian kanan

§ Nadi : 86 x/menit

§ RR : 24 x/menit

§ TD : 130/80 mmHg

§ T : 37C

Pendidikan yang rendah

Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan tindakan operasi

Ansietas

Jaringan luka post op

Inflamasi ( proses penyembuhan )

Reaksi reseptor saraf meningkat

Nyeri

Ansietas

Nyeri

2. Diagnosa Keperawatan

1. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

2. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan ditandai dengan pasien meringis kesakitan, luka masih basah, mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman.

3. Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Intervensi

Rasionalisasi

1.

Pre operasi :

Tanggal 1 Februari 2011

Jam : 17.30 WIB

Ansietas

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

DS :

-Klien mengatakan cemas terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan

DO :

- Wajah klien terlihat cemas,takut

- Klien sering bertanya tentang penyakitnya dengan perawat dan dokter

Tupan :

Pasien dan keluarga mengetahui informasi tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

Tupen :

Dalam waktu 1x24 jam

Rasa cemas klien berkurang

Dan klien tampak tenang

Tanggal :

1 Februari 2011

Jam : 17.30 WIB

1. Terangkan tentang penyakit dan pengobatan (Pendidikan)

2. Beri motivasi pada pasien

3.Beri informasi tentang pengobatan

1. Pasien mengerti dan mau bekerja sama

2. Agar pasien tidak cemas

3. Agar pasien mengetahui tentang pengobatan penyakitnya

2.

Post operasi :

Tanggal

02 Februari 2011

Jam : 15.00

Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan ditandai dengan pasien meringis kesakitan, luka

DS :

Klien megatakan nyeri pada daerah perut sebelah kana

DO :

-Wajah klien tampk meringis(dengan skala nyeri 5 – 6.

-tampak luka pada daerah perut sebelah kanan

TD : 130/80 mmHg

T : 370 c

RR : 24x/menit

Nadi : 88x/menit

Tupan :

-Nyeri teratasi

Tupen:

Dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang dengan kriteria klien tampak rileks.

TTV tetap stabil

Tanggal

2 Februari 2011

Jam : 15.30

1. Kaji tingkat nyeri

2. Monitor tanda – tanda vital

3. Lakukan

perawatan luka

4. Anjurkan klien istirahat di tempat tidur

5. Atur posisi klien senyaman mungkin

6. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

1. Untuk mengetahui skala nyeri yang terjadi pada pasien

Skala nyeri : 1 – 10.

1 – 4 : wajah tenang menahan kesakitan

5 – 7 : wajah meringis dan memegang daerah nyeri

8 – 10 : ekspresi wajah menangis menahan nyeri

2. Mempermudah dalam menentukan intervensi selanjutnya

3. Mengurangi resiko terjadinya infeksi

4. Mengurangi intensitas nyeri

5. Mencegah ketegangan otot dan mengurangi intensitas nyeri serta memberikan rasa nyaman

6. Membantu klien merasa lebih nyaman

7. Mengurangi rasa nyeri pada klien

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

NO. Diagnosa

Implementasi

Evaluasi

1.

Pre op

Hari, tanggal : Senin, 31 Januari 2011

Pukul : 17.30 WIB

1. Menerangkan tentang penyakit dan pengobatan

2. Memberi motivasi pada pasien

3. Memberi informasi tentang pengobatan

4. Melibatkan orang terdekat klien untuk mendukung klien

Pre op :

Hari, tanggal : Senin , 01 Januari 2011

Pukul : 19.45 WIB

S : Klien mengatakan rasa cemasnya berkurang

O : Wajah klien tampak tenang, klien mengerti tentang penyakit dan prosedur tindakan operasi

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

2.

Post op hari 1

Hari, tanggal : Rabu, 02 Februari 2011 ( post op hari 1 )

Pukul : 17.00 WIB

1. Mengkaji tingkat nyeri

2. Memonitor tanda-tanda vital

3. Melakukan perawatan luka

4. Menganjurkan klien untuk istirahat di tempat tidur

5. Mengatur posisi klien senyaman mungkin

6. Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam

7. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (analgesic)

Post op hari 1

Hari, tanggal : Rabu, 02 Februari 2011

Pukul : 10.30 WIB

S : Klien mengatakan nyeri sedikit berkurang

O : Klien tampak rileks, luka tampak masih basah

Tanda-Tanda Vital :

- TD : 120 / 80 mmHg

- RR : 20 x/menit

- T : 36,50C

- Nadi : 82 x/menit

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi di lanjutkan.

BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dibahas tentang kesenjangan antara teori dengan praktik yang terjadi dilapangan selama mengkaji, mengintervensi dan mengimplementasi pasien hernia inguinalis dextra di RSUD Palembang BARI.

Asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan post op hernia inguinalis dextra meliputi pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan post op hernia inguinalis dextra dapat dikaji dari keadaan umum, tanda – tanda vital dan inspeksi pada bagian abdomen, luka post op, auskultasi bising usus, palpasi nyeri tekan dan perkusi adanya perut kembung. Sedangkan diagnose yang diangkat pada asuhan keperawatan post op hernia inguinalis adalah ansietas ( rasa cemas) dan nyeri.

Tindakan untuk diagnose ansietas adalah memberikan pendidikan tentang penyakit yang dialami oleh pasien, buat pasien tenang dengan teknik komunikasi yang baik sedangkan Tindakannya untuk diagnose nyeri meliputi monitor tanda – tanda vital dan skala nyeri, anjurkan klien istirahat ditempat tidur, melakukan perawatan luka setiap hari, dan kolaborasi dalam pemberian terapi obat ( analgesic ).

Pada pelaksanaan pengkajian setelah operasi didapati pasien dengan kecamasan yang cukup tinggi ditandai dengan tekanan darah yang meningkat. Pasien cemas dikarenakan ketidak tahuan merawat luka pasca operasi.

Pelaksanaan perawatan luka post op yang kami lakukan adalah mengganti balutan perban pasca operasi dan memonitori kebersihan luka dengan menerapkan prinsip steril, guna mencegah terjadinya infeksi pada luka klien. Prinsip steril yang di gunakan membuat klien merasa percaya dengan tindakan asuhan keperawatan yang kami berikan, Lingkungan rumah sakit di harapkan mempertahankan dan menjaga prinsip kesterilan dalam praktek lapangan, untuk mengurangi kontaminasi organisme dan tetap menjaga hak – hak privasi klien sehingga pelayanan dan mutu pelayanan keperawatan lebih baik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hernia inguinalis dextra adalah penonjolan isi perut inguinalis sebelah kanan, hernia inguinalis ini dapat terjadi karena congenital atau dapat di jumpai pada usia, baik perempuan maupun laki – laki.

Asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien post op Hernia Inguinalis Dextra pasien Tn. “M” meliputi pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Pada pengkajian di temukan keadaan klien komposmentis, tanda – tanda vital, TD : 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhunya 36,5C, dan pernapasan 20 x/menit. Inspeksi pada bagian abdomen, terdapat luka post op yang panjang luka 5cm. Ada nyeri tekan dengan skala 5-6.

Diagnosa yang diangkat pada asuhan keperawatan pada Tn. “M” dengan post op hernia inguinalis dextra adalah nyeri dan ansietas. Tindakan untuk diagnose nyeri meliputi memonitor tanda – tanda vita dan skala nyeri, anjurkan klien istirahat di tempat tidur,atur posisi klien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam, dan kolaborasi dalam penberian obat terapi ( analgesic ) yang di berikan adalah injeksi ceterolac 3x1 amp. IVFD RL gtt 20x/menit, dan injeksi cefotaxime. Sedangkan tindakan untuk diagnose ansietas adalah memberikan pendidikan tentang penyakit hernia yang dialami oleh klien.

Pada pasien dengan indikasi nyeri tekan pada daerah post op dan dapat dilakukan dengan perawatan luka. Guna mencegah rasa nyeri dan infeksi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan, evaluasi yang di dapat adalah nyeri tampak berkurang dan ansietas tidak terjadi. Intervensi keperawatan tetap dilanjutkan dan terapi medis tetap diberikan. Klien di bolehkan pulang pada tanggal 4 Februari 2011.

B. SARAN

1. Bagi RSUD Palembang BARI

Diharapkan agar tetap terus meningkatkan sarana dan prasaran RSUD Palembang BARI. Bagi tenaga pelayan kesehatan di RSUD Palembang BARI, untuk tetap menjaga prinsip kesterilan dan privasi klien.

2. Bagi institusi Pendidikan

Diharapkan untk lebih meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan bimbingan serta latihan sebagi penunjang untuk pelaksanaan praktik dan pembuatan makalah, agar dapat meningkatkan ilmu pengetahuan selama proses pembelajaran.

3. Bagi Mahasiswa

Diharapkan agar dapat mengaplikasikan teori yang di dapat dengan sebbaik – baiknya dalam praktek lapangan serta memahami dan melaksanakan keterampilan praktek lapangan sesuai dengan prosedur yang baik dan benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar